Maka sudah semestinya,
umat Islam memulikan bulan ini karena sebab kemuliaannya. Karena alquran
sebagai kitab yang mulia, turun pada bulan ini. Namun, dewasa ini umat
disibukkan dengan berbagai macam tantangan. Umat Islam diserang secara
bertubi-tubi oleh fitnah-fitnah yang menyeretnya untuk lalai dalam memuliakan
bulan Ramadan. Dunia industri perfilman begitu gencar menembus dinding Iman
umat Islam. Sehingga sebagian mereka terpikat dan tersita waktunya hanya untuk
menonton.
Padahal, Ramadan
jelas bukan bulan perfilman. Film apa pun bentuknya. Apalagi film-film yang jelas-jelas tidak senonoh dan bersifat hayalan
berserial serta mengandung berbagai kebohongan ucapan dan kebohongan perbuatan.
Kelakarnya adalah kebohongan, tangisannya adalah kebohongan, keseriusan dan kesungguhannya
pun adalah kebohongan. Padahal kebohongan adalah sepertiga kemunafikan.
Rasulullah Saw
bersabda;
“Celakalah bagi
orang yang berbicara kemudian berbohong atas pembicaraannya dengan tujuan
membangun tawa suatu kaum. Kecelakaanlah baginya kecelakaanlah baginya!”.[1]
Orang-orang yang
sengaja menyebarkan kebohongan di dunia, di televisi-televisi dan surat – surat
kabar, kelak tulang rahang, mulut, mata dan hidung mereka akan disobek dengan
kail besi. Setiap kali bagian tubuh itu tersobek, akan kembali seperti semula
(normal) dan akan disobek kembali. Demikian seterusnya hingga hari kiamat sebagaimana
disampaikan dalam sebuah hadits shahih, dan yang demikian akan terjadi sesudah
kematiannya (alam kubur).[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar