Sabtu, 15 Juli 2017

Ramadan dan Film

Bulan ramadan adalan bulan alquran. Bulan di mana Allah memilihnya sebagai waktu-waktu alquran diturunkan. Bulan yang penuh dengan kehormatan dan kemuliaan, karena Allah telah memilih kitabNya, alquran, yang penuh kehormatan dan kemulian, turun di dalam bulan Ramadan ini. 
 
Maka sudah semestinya, umat Islam memulikan bulan ini karena sebab kemuliaannya. Karena alquran sebagai kitab yang mulia, turun pada bulan ini. Namun, dewasa ini umat disibukkan dengan berbagai macam tantangan. Umat Islam diserang secara bertubi-tubi oleh fitnah-fitnah yang menyeretnya untuk lalai dalam memuliakan bulan Ramadan. Dunia industri perfilman begitu gencar menembus dinding Iman umat Islam. Sehingga sebagian mereka terpikat dan tersita waktunya hanya untuk menonton.

Padahal, Ramadan jelas bukan bulan perfilman. Film apa pun bentuknya. Apalagi film-film  yang jelas-jelas tidak senonoh dan bersifat hayalan berserial serta mengandung berbagai kebohongan ucapan dan kebohongan perbuatan. Kelakarnya adalah kebohongan, tangisannya adalah kebohongan, keseriusan dan kesungguhannya pun adalah kebohongan. Padahal kebohongan adalah sepertiga kemunafikan. 

Rasulullah Saw bersabda;
“Celakalah bagi orang yang berbicara kemudian berbohong atas pembicaraannya dengan tujuan membangun tawa suatu kaum. Kecelakaanlah baginya kecelakaanlah baginya!”.[1]
Orang-orang yang sengaja menyebarkan kebohongan di dunia, di televisi-televisi dan surat – surat kabar, kelak tulang rahang, mulut, mata dan hidung mereka akan disobek dengan kail besi. Setiap kali bagian tubuh itu tersobek, akan kembali seperti semula (normal) dan akan disobek kembali. Demikian  seterusnya hingga hari kiamat sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadits shahih, dan yang demikian akan terjadi sesudah kematiannya (alam kubur).[2]


[1] Abu Daud (4990) dan Attiridzi (2315) dari hadits Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya. Attirmidzi berkata: hadits hasan.
[2] Imam Bukhari dalam Shahihnya (7047) dari hadits Samurah bin Jundub ra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar dari Piagam Madinah

Genealogi pertama sebuah negara berbasis Islam mestinya adalah Madinah. Sejarah mencatat, proklamator negara ini adalah pembawa ar r...