Genealogi pertama sebuah negara berbasis Islam mestinya adalah Madinah.
Sejarah mencatat, proklamator negara ini adalah pembawa ar risalah al
Islamiyah, Rasulullah Muhammad Saw. Namun beliau tidak serta merta menamai
negara yang dibangunnya sebagai negara Islam atau pun khilafah. Islam
tidak direfleksikannya dengan penyebutan negara Islam atau negara syariah. Bukan
dalam bentuk formal negara. Tapi Islam ditampilkan dalam nilai, perilaku dan
perbuatan, dalam tatanan sosial, interaksi antar individual, antar golongan,
antar elemen umat dan suku bangsa. Islam ditampilkan dalam karakter kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Semua elemen bangsa yang hidup di Madinah, mempunyai hak yang sama atas
negaranya, dan mempunyai kewajiban yang sama. Tidak ada perbedaan apakah mereka
seorang pendatang atau penduduk asli, muhajirin atau anshar. Tidak
ada perbedaan apakah mereka seorang muslim atau yahudi. Mereka terikat pada
perjanjian yang sama, perjanjian yang ditetapkan sebagai dasar berbangsa dan
bernegara oleh proklamatornya, Muhammad Saw., yang disebut dengan “Piagam
Madinah”. Maka di antara isinya tertera, “perjanjian ini tidak boleh dilanggar
kecuali memang dia orang yang zalim atau jahat.” (Shafiyyurrahman, 1997).
Orang yang zalim dan jahat itu adalah orang yang melanggar perjanjian.
Orang yang merendahkan falasafah negara, piagam madinah. Karena piagam
madinah sejatinya adalah falsafahnya sebuah bangsa dan negara yang
dibangun oleh Rasulullah Saw. Maka itu berarti kedudukannya sama dengan falsafah
– falsafah kenegaraan negara yang lain di bumi ini. Itu berarti sama dengan
pancasila, falsafahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini
hanya sebuah penerapan dangkal, memang, dari kaidah analogi, qiyas, dalam
usul fikih.
Namun coba renungkan sekali lagi, Rasulullah Muhammad Saw., itu
adalah representasi Islam yang menetapkan piagam madinah untuk negara yang
didirikannya. Berbicara tentang fissilmi
kaffah, masuk Islam secara kaffah, yang selama ini di tarik – tarik
ke sana ke mari sebagian kalangan aktifis Islam, maka silahkan dijawab
kurang kaffah bagaimana keislaman Rasulullah Saw? Faktanya kaffahnya
beliau dalam berislam tidak mendorongnya membentuk negara berplang madinah
syariah, daulah syariah atau khilafah. Tidak ada. Negara khilafah
bukan gagasannya. Tapi Madinah dengan asasnya al watsiqah, piagam
atau ad-dustur, undang-undang. Terminologi kuno lebih mengenalnya sebagai
lembar kesepakatan, ash-shahifah. Itu sejatinya dasar negara dan
sekaligus falsafah hidup bangsanya. Semua lapisan bangsa apa pun latar
belakangnya jika menghendaki hidup di Madinah, pilihannya satu tunduk dan patuh
pada perjanjian tersebut.
Maka di Indonesia, funding father negara ini memilih pancasila setelah
mengalami akselerasi demi merangkul semua kalangan, sebagai dasar dan falsafah
bangsa dan negara. Maka hukumnya atas bangsa Indonesia di hadapan pancasila dalam
kontek bernegara dan berbangsa berstatus sama dengan hukum yang mengikat warga
Madinah kala itu, mestinya. Semua lapisan patuh dan tunduk pada Pancasila. Dan mafhum
mukhalafahnya adalah bahwa mereka yang memilih ingkar sama dengan
berkhianat yang dalam term piagam madinah disebut zalim atau jahat.
Dalam Piagam Madinah, bangsa yang setia harus saling bahu membahu melawan
segala upaya pengingkaran terhadap isi piagam tersebut. Melawan semua tindak
penghianatan dan kezaliman. Termasuk saling bahu membahu melawan pihak yang
hendak menyerang dan menghancurkan Madinah. (Mahdi, 2005). Maka di sini pun,
peran warga dan bangsa Indonesia harus bahu membahu melawan segala upaya
pengingkaran, perlawanan dan penghianatan diam-diam atau terang-terangan
terhadap pancasila, termasuk harus saling bahu membahu dalam menghadapi musuh
yang hendak membatalkannya dan berupaya menghancurkan NKRI.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq...
Hamdi Aziz, Pondok Melati, 01-05-2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar